13 Mar

Mengenai Tata Cara Penamaan dan Pemanggilan di Zaman Heian

Di zaman modern, nama orang Jepang pada umumnya terdiri atas dua kata, yaitu nama keluarga yang diikuti nama kecil/ nama pribadi mereka. Orang Jepang tidak memiliki nama tengah. Sebagai contoh, nama PM Jepang saat ini Abe Shinzou (安倍 晋三) mengikuti pola penamaan ini. “Abe” pada “Abe Shinzou” adalah nama keluarga, dan “Shinzou” adalah nama pribadi beliau.

Pangeran Mahkota Akihito (sekarang Kaisar Akihito) & istrinya, Michiko pada hari pernikahan mereka di tahun 1959 (Sumber: Wikipedia)

Pangeran Mahkota Akihito (sekarang Kaisar Akihito) & istrinya, Michiko pada hari pernikahan mereka di tahun 1959 (Sumber: Wikipedia)

Tapi, pola ini tidak berlaku untuk anggota keluarga kekaisaran Jepang. Sebagai contoh, kaisar Jepang saat ini, “Akihito”, dan istrinya “Michiko”, hanya memiliki nama pribadi yang diikuti gelar bangsawan mereka. Karenanya, Kaisar Akihito dipanggil dengan sebutan “Akihito Tennou  明仁”. Tennou di sini adalah julukan yang biasa diberikan pada kaisar (Wikipedia, 2018).

Read More

13 Jan

Sejarah Berpakaian di Zaman Heian: Perbedaan Elemen Berpakaian Antar Golongan

Zaman Heian adalah zaman dimana terjadi kesenjangan sosial yang sangat besar antara kaum aristokrat, pemuka agama dengan rakyat biasa. Kesenjangan ini dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di zaman Heian seperti pakaian, gaya hidup, dan lain sebagainya. Pada tulisan kali ini, penulis akan mencoba membahas perbedaan elemen-elemen berpakaian tiga kelas masyarakat di zaman Heian beserta penjelasan singkatnya.

Gambar 1. Beragam jenis pakaian dari zaman Heian yang dapat kita temui di Aoi Matsuri (Sumber: Jake Jung@Flickr)

Gambar 1. Beragam jenis pakaian dari zaman Heian yang dapat kita temui di Aoi Matsuri (Sumber: Jake Jung@Flickr)

Read More

27 Dec

Perilaku Konsumsi Konsumen Otaku di Jepang

Mungkin tidak berlebihan jika otaku dianggap sebagai konsumen Jepang yang paling menarik. Kelompok ini dapat mencakup pria dan wanita dari berbagai kalangan usia dan tersebar di pelosok dunia. Di Jepang, otaku bukan kaum terpinggirkan, melainkan segmen konsumen yang cukup besar dengan pangsa pasar sekitar 1,7 milyar yen pada tahun 2007.

Seorang otaku berjalan di tengah-tengah keramaian kota sambil menenteng tas berisi merchandise serta mengenakan pakaian bermotif karakter favoritnya (Sumber: Japan Today)

Seorang otaku berjalan di tengah-tengah keramaian kota sambil menenteng tas berisi merchandise serta mengenakan pakaian bermotif karakter favoritnya (Sumber: Japan Today)

Read More

27 Dec

Transformasi Perilaku Konsumen Pria Generasi Muda Jepang

Apa yang terbayang di benak kalian ketika membaca judul di atas?  Apakah kalian langsung mengingat artikel tentang bra untuk pria? Piyama dengan model seragam anak sekolah untuk pria? Jika memang benar, kalian tidak sendirian! Para konsumen pria di Jepang sering dimisinterpretasikan karena media sering memberitakan target konsumen yang demikian, walaupun kelompok yang menjadi target iklan tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari seluruh konsumen pria di Jepang.

Piyama bertema Sailor untuk kaum pria. (Sumber: RocketNews24)

Piyama bertema baju sailor untuk pria. (Sumber: RocketNews24)

Read More

01 Feb

Budaya Mandi dan Pemandian di Jepang Sebelum Tahun 1400

Budaya mandi di Jepang sudah ada sejak lama, bahkan mungkin sejak manusia mulai berdiam di sana. Sejarawan Cina yang datang di Wa (sebutan Jepang zaman dahulu) pada abad ketiga mencatat bahwa para penduduk Wa sudah mengenal budaya mandi dan membersihkan diri, walaupun hanya untuk menyucikan dan memurnikan diri dari segala sesuatu yang najis. Anggapan ini mungkin disebabkan oleh kondisi geografis Jepang yang memiliki banyak sumber mata air panas alami. Karenanya, budaya mandi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jepang zaman dahulu, walaupun tidak dilakukan secara teratur.

Read More

27 Jan

Kaisar Oujin Membagi-bagi Warisan Untuk Ketiga Anaknya

Sesudah itu, Sang Penguasa Yang Maha Agung (Kaisar Oujin) mengajukan pertanyaan berikut kepada Yang Mulia Oho-Yama-Mori dan Yang Mulia Oho-Sazaki, “Sesungguhnya yang manakah yang lebih patut memperoleh kasih sayang, anak yang lebih tua atau yang lebih muda?” (Alasan mengapa Yang Maha Agung menanyakan hal demikian adalah karena dia berniat menobatkan Uji-no-Waki-Iratsuko sebagai penerusnya). Read More

28 Dec

Budaya Mencuci Pakaian di Zaman Heian

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia selain makanan dan rumah. Di zaman Heian, pakaian para bangsawan dibuat dan disiapkan oleh keluarga istri dan/atau dayang-dayangnya, sementara pakaian rakyat biasa oleh istri-istri mereka. Namun, pernahkah kalian berpikir bagaimana cara mereka mencuci pakaiannya?

Read More

17 Apr

Sejarah Berpakaian di Jaman Heian – Gambaran Singkat

Jaman Heian adalah suatu periode di mana interaksi dengan China telah berkurang secara drastis dan budaya serta pakaian tradisional Jepang mulai berkembang menurut caranya sendiri. Pengaruh budaya yang hanya berupa imitasi murahan dari budaya jaman T’ang China semakin berkurang dan hanya sebagian kecil yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jepang yang bertahan, kemudian menjadi fondasi kebudayaan Jepang sampai masa kini (Tsutomu, 1936). Karenanya, pada jaman Heian terjadi perubahan gaya arsitektur, standar kecantikan, hingga seni dan bahasa dan terciptalah budaya baru yang mulai memiliki karakteristiknya sendiri.

Pada jaman Heian, pemilihan jenis dan warna pakaian sangat penting baik bagi kaum laki-laki dan perempuan. Ini tercermin dalam berbagai literatur jaman Heian, seperti The Diary of Lady Murasaki (Bowring, 2005), Tale of Genji (Waley, 2010), The Pillow Book (McKinney, 2006), lukisan, rekam jejak kehidupan di jaman Heian dan sumber-sumber lainnya. Sebagai contoh, dalam diarinya Murasaki Shikibu selalu menggambarkan dengan cermat kombinasi warna, jenis kain dan pilihan motif pakaian para dayang istana yang bekerja bersamanya, seperti dalam ritual pemandian putra mahkota permaisuri Shoushi (Bowring, 2005). Contoh lain terdapat dalam Tale of Genji, dimana Genji menilai putri pangeran Hitachi (Safflower Princess, Suetsumu-Hana) berdasarkan kombinasi warna pakaian yang ia kenakan dan menyimpulkan bahwa putri tersebut memiliki selera yang agak ketinggalan jaman, namun berasal dari status sosial yang tinggi. Suetsumu-Hana adalah putri bungsu dari seorang pangeran, namun orangtuanya sudah meninggal dan tidak ada sanak keluarganya yang mampu mendukungnya secara finansial, sehingga kehidupannya cukup melarat (Waley, 2010). Contoh ketiga diambil dari salah satu cerita pendek yang dimuat di The Tale of Riverside Middle Counsellor yang berjudul The Shell-Matching Game (Hirano, 1963). Pada cerita ini seorang laki-laki aristokrat mengungkapkan ketidaksukaannya pada salah satu tokoh yang mengenakan pakaian dengan kombinasi warna yang tidak sesuai dengan musimnya. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa seni berpakaian pada masa itu sangat penting untuk menunjukkan selera, sensibilitas seni dan status sosial pemakainya.

Read More

17 Apr

Budaya Merias Gigi di Jepang dari Zaman Jomon hingga Edo

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai budaya merias gigi di Jepang sejak zaman Jomon hingga Edo. Terdapat dua budaya merias gigi yang cukup populer di masyarakat Jepang hingga akhir zaman Edo, yakni mutilasi gigi (diperkirakan punah pada akhir jaman Yayoi) dan menghitamkan gigi (diperkirakan punah pada akhir masa pemerintahan Meiji/Showa). Tulisan ini akan merangkum kedua budaya tersebut dan membahas tujuan dan cara melaksanakannya serta keberlangsungannya hingga masa kini.

Pada jaman Jomon (4500 – 3000 SM) terdapat budaya merias gigi yang populer baik di kalangan laki-laki dan perempuan , yakni mencabut beberapa gigi depan/belakang untuk membentuk suatu pola tertentu. Budaya ini lebih populer pada kaum laki-laki dibandingkan perempuan, dengan persentase sekitar 70persen laki-laki dan 30persen perempuan. Umumnya proses mutilasi gigi dilakukan oleh kaum remaja yang beranjak menuju dewasa. Proses ini diduga sebagai bagian dari upacara kedewasaan atau menandai keanggotaan yang bersangkutan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu yang sifatnya rahasia.

Read More