13 Mar

Mengenai Tata Cara Penamaan dan Pemanggilan di Zaman Heian

Di zaman modern, nama orang Jepang pada umumnya terdiri atas dua kata, yaitu nama keluarga yang diikuti nama kecil/ nama pribadi mereka. Orang Jepang tidak memiliki nama tengah. Sebagai contoh, nama PM Jepang saat ini Abe Shinzou (安倍 晋三) mengikuti pola penamaan ini. “Abe” pada “Abe Shinzou” adalah nama keluarga, dan “Shinzou” adalah nama pribadi beliau.

Pangeran Mahkota Akihito (sekarang Kaisar Akihito) & istrinya, Michiko pada hari pernikahan mereka di tahun 1959 (Sumber: Wikipedia)

Pangeran Mahkota Akihito (sekarang Kaisar Akihito) & istrinya, Michiko pada hari pernikahan mereka di tahun 1959 (Sumber: Wikipedia)

Tapi, pola ini tidak berlaku untuk anggota keluarga kekaisaran Jepang. Sebagai contoh, kaisar Jepang saat ini, “Akihito”, dan istrinya “Michiko”, hanya memiliki nama pribadi yang diikuti gelar bangsawan mereka. Karenanya, Kaisar Akihito dipanggil dengan sebutan “Akihito Tennou  明仁”. Tennou di sini adalah julukan yang biasa diberikan pada kaisar (Wikipedia, 2018).

POLA  PENAMAAN BANGSAWAN DI ZAMAN HEIAN

Walaupun demikian, pola penamaan pada zaman Heian jauh lebih rumit. Pada umumnya, kaum bangsawan pada zaman Heian dinamakan dengan pola penamaan nama keluarga + no + nama pemberian. Imbuhan no di sini dapat diartikan sebagai “dari”.  Sebagai contoh, nama kesatria Jepang yang terkenal dari perang Genpei, Minamoto no Yoshitsune, dapat diterjemahkan menjadi “Yoshitsune dari Klan Minamoto”. Pola penamaan ini berlaku bagi laki-laki walaupun perempuan bangsawan, walaupun perempuan lebih sering dikenali dengan nama kerabat dekatnya (ayah, anak, suami) alih-alih dengan nama aslinya.

Aristokrat yang menjabat sebagai gubernur atau pejabat tinggi lainnya juga dapat menyelipkan jabatan menjadi nama tengah mereka. Dalam kasus ini, struktur nama mereka berubah menjadi nama keluarga + jabatan + nama pemberian. Sebagai contoh, salah satu pemimpin Jepang yang terkenal, Toyotomi Hideyoshi, dikenal dengan nama Hashiba “Chikuzen-no-kami” Hideyoshi ketika menjabat sebagai gubernur Chikuzen.

Beberapa nama klan aristokrat/ kuge yang sering ditemui (Sumber: Sengoku Daimyo)

Beberapa nama klan aristokrat/ kuge yang sering ditemui (Sumber: Sengoku Daimyo)

Sebagian besar nama klan di Jepang  terdiri atas dua kanji. Walaupun demikian, ada banyak kasus di mana nama klan dapat terdiri dari 3 (atau lebih), atau malah 1 kanji saja. Dalam banyak kasus, nama klan yang hanya disusun oleh 1 kanji adalah klan keturunan migran dari China/ Korea. Beberapa contoh nama klan di Jepang yang umum ditemui hingga tahun 1600 dapat dilihat pada tabel berikut.

Beberapa nama klan Jepang yang umum ditemui hingga tahun 1600 (Sumber: Sengoku Daimyo)

Beberapa nama klan Jepang yang umum ditemui hingga tahun 1600 (Sumber: Sengoku Daimyo)

Karena hanya kaum bangsawan yang boleh memiliki nama belakang (nama klan), nama laki-laki zaman Heian yang bukan bangsawan umumnya hanya terdiri atas satu kata, yaitu nama kecil mereka.  Agar lebih mudah dikenali, mereka dapat dicirikan dengan nama tempat tinggal/ pekerjaan/ julukan mereka, kemudian diikuti embel-embel yang sesuai, dengan atau tanpa imbuhan no. Embel-embel di sini dapat berupa nama asli atau pekerjaan mereka. Sebagai contoh, salah satu karakter di Nihon Ryouiki dikenal dengan julukan Kagamitsukuri no Miyatsuko, yang artinya pemimpin (miyatsuko) dari keluarga pembuat cermin (kagamitsukuri).

TATA CARA PENAMAAN LAKI-LAKI DI ZAMAN HEIAN

Tidak seperti perempuan, laki-laki zaman Heian biasanya memiliki lebih dari satu nama. Nama-nama tersebut adalah youmyou (nama kecil, nama anak-anak), zokumyou (nama sesuai urutan lahir), nanori (nama resmi setelah akil baliq), dan azana (nama formal yang dibaca dengan cara baca China).

  1. Youmyou (doumyou)

Youmyou (atau doumyou), adalah nama kecil yang biasa diberikan pada anak-anak dalam upacara kelahiran mereka. Umumnya nama kecil diakhiri dengan imbuhan -maru (imbuhan yang menunjukkan kasih sayang),  -maro (diri), -ko (anak), -o (laki-laki), atau -waka (muda), misalnya Ushiwakamaru (lembu muda sayang). Selain itu, nama kecil juga dapat mengandung karakter sifat yang diharapkan orangtua si bocah, misalnya Takeshi (berani)  atau Manabu (belajar). Laki-laki aristokrat biasanya menggunakan nama kecil mereka hanya sampai waktu akil baliq. Sebaliknya, kebanyakan laki-laki bukan aristokrat menggunakan nama kecil mereka sampai dengan akhir hayatnya.

Beberapa imbuhan yang sering dipakai dalam nama kecil laki-laki di zaman Heian (Sumber: Sengoku Daimyo)

Beberapa imbuhan yang sering dipakai dalam nama kecil laki-laki di zaman Heian (Sumber: Sengoku Daimyo)

2. Zokumyou (tsushou, kemyou, yobina)

Zokumyou adalah nama yang menunjukkan urutan lahir sang anak dalam keluarganya. Biasanya nama ini diambil saat genpuku (upacara kedewasaan laki-laki). Pemuda yang sudah akil baliq akan dipanggil dengan nama ini oleh teman dan keluarganya. Nama zokumyou biasanya juga dikombinasikan dengan kata sifat bermakna baik yang umum digunakan, misalnya Dai- (besar), Chou- (panjang), atau Ryou- (baik). Di zaman Heian, nama zokumyou juga dikombinasikan dengan salah satu kanji penyusun nama klannya, misalnya To- untuk Fujiwara, Gen- untuk Minamoto, dan Hei- untuk Taira.

Contoh kanji yang sering digunakan dalam nama zokumyou (Sumber: Sengoku Daimyou)

Contoh kanji yang sering digunakan dalam nama zokumyou (Sumber: Sengoku Daimyou)

Setelah itu, nama zokumyou bisa diakhiri dengan imbuhan yang sesuai. Imbuhan yang paling sering digunakan adalah -rou (anak laki-laki), walaupun imbuhan ini sudah jarang digunakan setelah abad ke-15. Kadang-kadang, nama anak laki-laki juga bisa mengimplikasikan urutan lahir ayahnya, misalnya Saburoujirou (anak kedua (jirou) dari anak ketiga (saburou) ).

Di sisi lain, nama yang berakhiran dengan imbuhan -suke, -nosuke, emon, atau -zaemon tidak pernah digunakan di zaman Heian. Walaupun nama ini memang berkesan klasik/ ningrat, sebenarnya nama-nama dengan imbuhan tersebut baru mulai digunakan setelah zaman Edo.

3. Nanori (Jitsumei)

Nanori adalah nama resmi laki-laki yang juga diambil saat genpuku. Nama nanori biasanya disusun oleh 2 kanji bermakna baik dan biasanya tersusun atas 4 suku kata (misal: Yo-shi-no-ri). Nanori yang hanya disusun oleh 1 kanji biasanya dibaca dengan cara baca China (versi Jepang).

Setelah abad ke-10 (pertengahan zaman Heian), timbul kebiasaan baru untuk menyertakan nama sponsor upacara genpuku ke dalam nama resmi sang pemuda. Karenanya, banyak nama anggota klan yang disusun oleh kanji yang sama. Contoh klan yang mengikuti pola penamaan ini adalah klan Ashikaga (Yoshi-) dan Oda (Nobu-).

Beberapa karakter yang umum digunakan dalam nama nanori (Sumber: Sengoku Daimyou)

Beberapa karakter yang umum digunakan dalam nama nanori (Sumber: Sengoku Daimyou)

Tidak ada aturan tertulis mengenali peletakan kanji nama sponsor dalam nama nanori. Walaupun demikian, biasanya kanji akan diletakkan di depan nama sang pemuda jika karakter tersebut adalah kanji pertama pada nama sponsor.

4. Azana 

Azana adalah nama pemberian yang dibaca dengan cara baca China (versi Jepang). Nama ini lebih formal daripada nanori. Nama azana mengindikasikan bahwa orang tersebut adalah orang terpelajar, seniman, atau pemain hiburan.

TATA CARA PEMANGGILAN LAKI-LAKI DI ZAMAN HEIAN

Ilustrasi laki-laki di zaman Heian, diambil dari Genji Monogatari Emaki (Tale of Genji Scroll)

Ilustrasi laki-laki di zaman Heian, diambil dari Genji Monogatari Emaki (Tale of Genji Scroll)

Sangatlah lancang untuk memanggil bangsawan di zaman Heian dengan nama kecilnya. Sebagai gantinya, laki-laki bangsawan di zaman Heian dipanggil dengan pekerjaan/ posisi/ gelar/ julukannya di Istana. Pola pemanggilan ini juga bisa digunakan untuk memanggil rakyat biasa, walaupun mereka lebih lazim dipanggil dengan nama kecil. Panggilan tersebut akan berubah seiring dengan perubahan pangkat mereka. Sebagai contoh, pada awal cerita Ochikubo Monogatari, kekasih Putri Ochikubo dikenal dengan sebutan “Sakon no Shosho” karena dia menjabat sebagai letnan (shosho) para pengawal (sakon) di Istana. Namun, di akhir cerita Sakon no Shosho sudah naik pangkat menjadi Dajo-daijin (Menteri Agung), sehingga panggilannya pun berubah sedemikian rupa.

Walaupun demikian, pria bangsawan zaman Heian dapat dipanggil dengan nama, jika dan hanya jika statusnya rendah. Memanggil seorang bangsawan dengan nama kecilnya sangat lancang dan bisa dianggap menghina. Sebagai contoh, pada awalnya bawahan Kurodo no Shosho dari Ochikubo Monogatari dikenal dengan sebutan Kotachihaki, namun setelah naik pangkat dia dikenal dengan sebutan Mikawa no Kami (Gubernur dari Mikawa), dan di akhir cerita dia dipanggil dengan julukan Sashouben (Pengawas Kiri Minor).

Laki-laki bangsawan di zaman Heian juga bisa dipanggil berdasarkan urutan lahir mereka, kemudian diikuti embel-embel yang sesuai. Pola ini umum ditemui jika sang pemuda bukan anak satu-satunya dan tidak memiliki status/ jabatan / ciri khas. Sebagai contoh, ayah kedua putri Uji pada babak kedua Hikayat Genji dikenal dengan sebutan Hachi no Miya, yang artinya pangeran kedelapan.

Walaupun jarang ditemui, kaum pria bangsawan di zaman Heian juga dapat dikenal dengan julukannya di Istana/ panggilan yang identik. Sebagai contoh, tokoh utama kisah Genji Monogatari (Hikayat Genji) dikenal dengan julukan “Genji Hikaru” (atau Hikaru no Kimi) karena dia berasal dari klan Minamoto/ Genji dan dia “sangat memesona/ bercahaya” (hikaru dalam bahasa Jepang berarti cahaya).

TATA CARA PENAMAAN PEREMPUAN DI ZAMAN HEIAN

Ilustrasi perempuan di zaman Heian, diambil dari Genji Monogatari Emaki (Tale of Genji Scroll)

Ilustrasi perempuan di zaman Heian, diambil dari Genji Monogatari Emaki (Tale of Genji Scroll)

Sementara itu, nama perempuan zaman Heian pada umumnya hanya disusun oleh satu kata dan tidak membawa nama keluarga, kecuali saat dicatat. Ini dikarenakan menurut ajaran Konfusius, garis keturunan keluarga diturunkan oleh laki-laki. Selain itu, perempuan juga tidak mengganti nama mereka setelah melalui upacara kedewasaan. Nama seorang perempuan akan terus sama sepanjang hidupnya, kecuali jika mereka menjadi biksu. Nama perempuan juga umumnya ditulis menggunakan kana (hiragana) alih-alih kanji. Ini dikarenakan pada zaman Heian, kanji (huruf China) adalah bahasa para lelaki yang biasa dipakai dalam urusan kenegaraan, sehingga hiragana dianggap lebih feminin.

Di sisi lain, asumsi bahwa semua nama perempuan Jepang berakhiran ~ko (artinya anak)  tidak berlaku di zaman Heian. Bahkan, pada awal mulanya imbuhan ~ko adalah imbuhan nama laki-laki sejak zaman Nara dan sebelumnya. Pada zaman Heian, beberapa nama perempuan bangsawan berpangkat tinggi menyertakan imbuhan ini, namun yang demikian tetap jarang ditemui. Beberapa imbuhan nama perempuan yang sering digunakan di zaman Heian antara lain adalah imbuhan ~e (cabang), ~e (pantai), ~e (banyak …), ~no (padang), ~me (wanita), ~yo (usia, generasi), atau bahkan tanpa imbuhan sama sekali (Bryant, 2016). Selain itu, nama berimbuhan ~yo pada zaman Heian umumnya dibaca mengikuti cara baca China. Sebagai contoh, kedua permaisuri Kaisar Ichijo di zaman Heian dikenal dengan nama Teishi (Sadako) dan Shoshi (Akiko).

Sama seperti sekarang, nama perempuan zaman Heian pada umumnya juga identik dengan alam, seni, musim, atau hal lain yang indah-indah. Selain itu, karakter penyusun nama wanita pada zaman Heian hanya terdiri dari 2-3 suku kata, baik dengan atau tanpa imbuhan di belakang. Ini dikarenakan nama perempuan yang lebih dari dua suku kata seringkali dianggap ‘terlalu panjang’. Walaupun demikian, banyak juga wanita bangsawan di istana yang namanya terdiri dari 3 suku kata tanpa imbuhan (Bryant, 2016).

TATA CARA PEMANGGILAN PEREMPUAN  DI ZAMAN HEIAN

Karena perempuan zaman Heian jarang dikenal dengan nama klannya, umumnya mereka dipanggil dengan nama/ posisi/ gelar ayah, suami, atau anaknya, kemudian diikuti no dan embel-embel yang sesuai. Beberapa embel-embel yang umum dipakai adalah miya (putra/ putri Kaisar), hime/ himegimi (putri), kimi (putri atau nona, panggilan putri bangsawan berpangkat rendah atau pelayan berpangkat tinggi), onnagimi (yang terkasih, panggilan para selir), kita no kata (dia yang tinggal di Utara, panggilan istri resmi), musume (anak perempuan), haha (ibu), dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, penulis diari Sarashina Nikki dikenal dengan julukan “Sugawara no Takasue no Musume”, yang dapat diartikan sebagai “Anak perempuan Takasue dari klan Sugawara”. Pada kasus lain, penulis kisah Genji Monogatari dikenal dengan julukan “Murasaki Shikibu”, karena karakter utama novel yang ia tulis dikenal dengan sebutan “Murasaki” dan ayah sang penulis adalah salah satu pejabat di Kementerian Seremonial (Shikibu-sho). Mengikuti pola ini, penulis buku “Kagero Nikki” dikenal dengan sebutan “Michitsuna no Haha”, yang artinya “Ibu dari Michitsuna”.

Dalam beberapa kasus, seorang wanita bangsawan juga dapat dipangggil dengan nama tempat tinggalnya, diikuti dengan embel-embel ue (jika berstatus nyonya rumah) atau kimi (jika statusnya rendah). Beberapa contoh wanita bangsawan yang dipanggil dengan sebutan ini adalah Nijo no Ue (panggilan putri Ochikubo setelah diboyong ke rumah Sakon no Shosho di blok kedua ibu kota (nijo)); dan Rokujo no Miyasudokoro (julukan salah satu kekasih Genji, seorang janda putra mahkota (miya) yang tinggal di blok keenam ibu kota (rokujo), dan sudah melahirkan anak bagi sang pangeran (miyasudokoro) ) (Tyler, 2006). Contoh lain adalah Akashi no Kimi, julukan salah satu kekasih Genji dari Genji Monogatari yang berstatus putri (kimi) seorang pendeta berpangkat rendah dan tinggal di Akashi; dan Tai no Ue, julukan lain Murasaki no Ue dari Genji Monogatari karena berstatus tidak resmi sebagai nyonya rumah (ue) dan tinggal di salah satu sayap (tai) rumah Genji. Putri Ochikubo (Ochikubo no Kimi, Dia yang tinggal di kamar yang lebih rendah) dari Ochikubo Monogatari dipanggil demikian karena dia tinggal di kamar pelayan (ochikubo), kamar yang tinggi lantainya lebih rendah daripada kamar tuan rumah.

Sama seperti pria , wanita bangsawan zaman Heian juga dapat dipanggil dengan urutan lahirnya, dengan diikuti gelar yang sesuai.  Sebagai contoh, adik-adik perempuan Putri Ochikubo dikenal dengan urutan lahir mereka, misalnya San no Himegimi dan Yon no Himegimi. Para putri bangsawan di kisah Genji Monogatari juga dipanggil dengan mengikuti pola ini. Dua putri Suzaku-In (mantan Kaisar Suzaku) dikenal dengan sebutan Onna-ni no Miya (Putri Kedua) dan Onna-san no Miya (Putri Ketiga). Pengenalan karakter dua putri Uji dari babak kedua Genji Monogatari juga mengikuti pola ini. Oigimi berarti “anak perempuan yang lebih tua”, sementara Naka no Kimi berarti “anak perempuan yang lebih muda”.

Sama seperti kaum pria, nama panggilan para wanita bangsawan juga akan berubah mengikuti perubahan status mereka, misalnya sesudah menikah atau melahirkan anak. Perubahan pangkat suami juga akan memengaruhi nama panggilan wanita bangsawan. Sebagai contoh, putri Ochikubo dari Ochikubo Monogatari nantinya akan dipanggil dengan sebutan Dajodaijin no Kita no Kata (istri resmi Menteri Agung) karena suaminya naik pangkat menjadi Dajodaijin.

Apabila perempuan tersebut menikah dan masuk sebagai istri resmi, umumnya mereka akan dikenal dengan gelar suami mereka, ditambah dengan embel-embel “kita no kata” di belakang. Gelar “kita no kata” yang artinya “Dia yang tinggal di Utara”, diberikan khusus pada istri resmi karena pada umumnya istri resmilah yang berhak tinggal di sebelah utara rumah seorang bangsawan. Sebagai contoh, istri resmi Higekuro dari Genji Monogatari dikenal dengan sebutan “Higekuro no Kita no Kata”. Di lain pihak, ibu tiri putri Ochikubo dari Ochikubo Monogatari dikenal dengan sebutan “Chuunagon no Kita no Kata”. Kedua wanita tersebut dipanggil demikian karena berstatus sebagai istri resmi.

Apabila wanita tersebut bekerja di Istana, jabatan yang ia pegang juga dapat disertakan dalam nama panggilannya. Sebagai contoh, anak perempuan Koremitsu, salah satu karakter Genji Monogatari dikenal dengan sebutan “To no Naishi no Suke”, yang berarti “Asisten (suke) pelayan (naishi) dari keluarga Fujiwara”.  Kedua permaisuri kaisar Ichijou (980-1011) juga dikenal dengan sebutan Kogou (permaisuri pertama) dan Chuugu (permaisuri kedua).

Walaupun jarang ditemui, perempuan juga dapat mengganti nama mereka jika dianggap perlu. Sebagai contoh, pada awal cerita dayang putri Ochikubo dari Ochikubo Monogatari dikenal dengan nama Ushiromi (artinya penjaga, orang yang memperhatikan dari belakang). Nama ini hanya bertahan sebentar karena setelah itu Ushiromi mengganti namanya menjadi Akogi atas perintah ibu tiri Ochikubo. Ini dikarenakan Ushiromi dipromosikan menjadi dayang Putri Ketiga (San no Himegimi) dan namanya dianggap tidak layak untuk melayani putri bangsawan.

Dalam beberapa kasus, seorang wanita bangsawan juga dapat dipanggil dengan panggilan yang identik dengannya. Walaupun para wanita bangsawan di Genji kelihatannya juga masuk ke dalam pola ini (misal: Aoi no Ue, Murasaki no Ue), pada kenyataannya mereka tidak pernah dipanggil demikian di kehidupan nyata. Para karakter Genji mendapatkan julukan mereka dari situasi/ puisi yang identik dengan mereka dalam novel tersebut.

Referensi:

Bryant, A. J., & Badgley, J. L. (2016, December 24). = Japanese Names =. Retrieved March 18, 2018, from http://www.sengokudaimyo.com/miscellany/names.html



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *