10 Dec

Kotohime Monogatari (Hikayat Kotohime)

Cerita ini disarikan dari serial animasi Folktales from Japan Season 1 (Furusato Saisei:Nihon no Mukashi Banashi) episode 230 bagian 3, dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, di salah satu pesisir pantai di kepulauan Jepang, hiduplah seorang bocah nelayan yang tinggal berdua dengan Ibunya. Di suatu waktu, anak itu mendapati sebuah kapal yang terdampar di dekat tempat tinggalnya.

"Wah, kapalnya besar sekali!" batin si anak

“Wah, kapalnya besar sekali!” batin si anak

Tergugah oleh rasa penasarannya, si bocah melongok ke dalam isi kapal. Terkejutlah dia! Alih-alih rongsokan, dia malah menemukan seorang putri yang sangat cantik. Putri tersebut terbaring pingsan sambil memeluk alat musik koto.

Si bocah menemukan seorang putri yang sedang pingsan. Putri itu berpakaian seperti bangsawan dan sangat cantik.

Si bocah menemukan seorang putri yang sedang pingsan. Putri itu berpakaian seperti bangsawan dan sangat cantik.

Didorong oleh rasa kasihan, anak laki-laki itu pun membawa sang putri pulang ke rumahnya. Sang putri pun dirawat dengan penuh perhatian oleh pasangan ibu dan anak tersebut.

"Di mana ini, di manakah saya? Di mana koto saya?" bisik sang putri sesaat setelah dia bangun.

“Di mana ini, di manakah saya? Di mana koto saya?” bisik sang putri sesaat setelah dia bangun.

Belakangan, baru diketahui kalau sang putri berasal dari klan Taira/ Heike. Pada waktu putri tersebut ditemukan, klan Minamoto/ Genji sedang berperang dengan klan Taira dan kemenangan Minamoto sudah di depan mata. Sadar atas kekalahan mereka, anggota klan Taira yang tersisa pun kabur untuk menyelamatkan diri dari keberingasan klan Minamoto. Putri tersebut adalah salah satu anggota klan yang terpencar dari keluarganya ketika kabur dari kejaran klan Minamoto.

Sang putri berikut keluarganya sedang bersiap-siap kabur dengan kapal

Sang putri berikut keluarganya sedang bersiap-siap kabur dengan kapal

Satu-satunya anggota keluarga sang putri yang tersisa dari kekejaman perang tersebut adalah ayahnya. Namun naas! Mereka terpisah karena laki-laki yang sudah renta itu lambat menumpang kapal, sehingga putri tersebut berangkat tanpa sang ayah.

Walaupun demikian, kesialan klan tersebut belum berakhir. Kapal mereka kandas terkena ombak! Selain sang putri, keberadaan anggota klan yang lain tidak diketahui rimbanya. Putri tersebut  mujur karena terdampar di desa yang mau menerima kehadiran sang putri.

"Ayah!" jerit sang putri sambil menjulurkan tangan ke arah ayahnya

“Ayah!” jerit sang putri sambil menjulurkan tangan ke arah ayahnya

Akhirnya, sang putri memutuskan untuk menunggu keluarganya sambil menumpang di rumah si bocah yang pertama kali menemukannya di sana. Berkat perawatan ibu sang bocah serta keramahan para penduduk desa, kesehatan sang putri pun berangsur-angsur membaik. Setelah beberapa waktu, akhirnya dia bisa berjalan lagi.

Kesehatan sang putri membaik setelah dirawat oleh pasangan ibu dan anak tersebut

Kesehatan sang putri membaik setelah dirawat oleh pasangan ibu dan anak tersebut

Setelah sehat, sang putri sering menghabiskan waktunya menyendiri di pinggiran tebing. Sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan para penduduk desa yang sudah menerima kehadirannya, sang putri memperdengarkan keahliannya bermain koto pada para penduduk desa. Dia juga bermain  untuk melampiaskan rasa rindu akan sang ayah yang rimbanya entah di mana.

Si bocah mengintip sang putri yang menyendiri sambil bermain koto

Si bocah mengintip sang putri yang menyendiri sambil bermain koto

Walaupun buta, ayah sang putri adalah pemain koto yang sangat handal. Karenanya, sudah sepantasnya jika putri tersebut juga pandai bermain koto. Kepandaiannya inilah yang membuat sang putri dipanggil penduduk sekitar dengan sebutan Kotohime.

Sang putri bermain koto sambil mengingat ayahnya

Sang putri bermain koto sambil mengingat ayahnya

Bunyi koto yang dimainkan Kotohime sangat merdu dan menggema hingga ke seluruh penjuru desa tersebut. Gaung permainan sang putri  sangat lembut, namun menyayat hati dan penuh kesedihan. Di dalamnya terselip nada sendu sang putri karena tidak kunjung dipertemukan dengan keluarganya. Betapa malangnya nasib gadis ini!

Suara koto yang dimainkan sang putri menggema hingga ke seluruh penjuru desa

Suara koto yang dimainkan sang putri menggema hingga ke seluruh penjuru desa

Tidak tahan dirundung rasa sedih dan rindunya pada sang ayah, akhirnya di suatu waktu Kotohime jatuh sakit. Sakitnya sangat keras, sampai-sampai sang putri tidak bisa bangun lagi dari tempat tidurnya.

Kotohime dirawat oleh si anak nelayan beserta ibunya ketika sakit

Kotohime dirawat oleh si anak nelayan beserta ibunya ketika sakit

Sama seperti sebelumnya, pada kesempatan ini  pasangan ibu dan anak yang memberikan tumpangan pada Kotohime pun kembali merawat sang putri. Para penduduk desa pun datang menjenguk dan membawakan Kotohime berbagai makanan untuk mempercepat pemulihan sang putri.

Walaupun demikian, usaha mereka kali ini tidak membuahkan hasil. Kotohime pun meninggal. Tubuh sang putri berikut kotonya dikuburkan di tebing tempat Kotohime biasa bermain koto.

Pasangan ibu dan anak yang merawat Kotohime selama ini bersimpuh mendoakan arwah sang putri di depan makamnya

Pasangan ibu dan anak yang merawat Kotohime selama ini bersimpuh mendoakan arwah sang putri di depan makamnya

Sepeninggal Kotohime, terjadi suatu keajaiban. Para penduduk merasa mendengar bunyi musik sang putri, tapi mereka tidak tahu dari mana asalnya. Setelah mendengarkan dengan teliti, para penduduk baru menyadari bahwa suara tersebut berasal dari pasir yang mereka injak! Mungkin karena devosi Kotohime yang sangat kuat, pasir pantai di sana  mengeluarkan bunyi mirip suara koto yang biasa dimainkan sang putri.

Pasangan ibu dan anak tersebut kaget ketika menyadari bahwa suara pasir yang mereka injak mengeluarkan suara mirip suara koto

Pasangan ibu dan anak tersebut kaget ketika menyadari bahwa suara pasir yang mereka injak mengeluarkan suara mirip suara koto

Beberapa waktu kemudian, pantai tersebut kedatangan tamu yang tidak asing, seorang kakek bangsawan yang buta. Ayah Kotohime! Ternyata sang ayah datang karena mendapat berita tentang pantai di pesisir yang mengeluarkan suara koto ketika diinjak. Sangat disayangkan!

Ayah sang putri datang ke pantai tempat anaknya terdampar tersebut, beberapa saat setelah sang putri berpulang

Ayah sang putri datang ke pantai tempat anaknya terdampar tersebut, beberapa saat setelah sang putri berpulang

Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Putri yang sangat ia kasihi sudah meninggal. Sang ayah hanya bisa menangis di atas pasir pantai yang sekarang menyimpan jiwa Kotohime.

"Kotohime, Kotohime!" Isak sang ayah sambil menggenggam pasir

“Kotohime, Kotohime!” Isak sang ayah sambil menggenggam pasir

Pada akhirnya, ayah Kotohime memutuskan tinggal di sana untuk menunggui makam sang putri sampai akhir hayatnya. Di kemudian hari, pantai tempat arwah Kotohime bersemayam ini  dikenal dengan sebutan Kotogahama, yang artinya “Pantai Koto”.

Ayah Kotohime bermain koto di depan makam putrinya

Ayah Kotohime bermain koto di depan makam putrinya

Catatan: 

Pantai yang diceritakan dalam kisah ini benar-benar ada dan bisa ditemukan di prefektur Shimane. Jika Anda memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke Jepang suatu hari nanti, Anda bisa mengunjungi pantai tersebut dan menikmati keindahannya sambil mendengarkan bunyi pasir pantai ketika diinjak. Anda juga bisa mendengar bunyi tersebut di situs Youtube melalui pranala luar ini.

 

74 total views, 0 views today


Dukung penulis dengan membagikan cerita ini :)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *