01 Oct

Hachikazuki Hime (Putri Tempayan)

Cerita ini disarikan dari serial animasi Folktales from Japan Season 1 (Furusato Saisei:Nihon no Mukashi Banashi) episode 40 bagian 2, dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, tinggallah seorang putri bangsawan yang cantik jelita di Ibu Kota. Putri itu tinggal berdua bersama Ibunya yang sangat menyayanginya. Di waktu luangnya, sang Ibu sering berbincang sambil menyisir rambut sang gadis.

Ibu Hachikazuki Hime sedang menyisir rambut putrinya. Ikat kepala yang dikenakan sang Ibu (bijime atau hachimaki) menunjukkan bahwa perempuan itu sedang sakit.

Ibu Hachikazuki Hime sedang menyisir rambut putrinya. Ikat kepala yang dikenakan sang Ibu (bijime atau hachimaki) menunjukkan bahwa perempuan itu sedang sakit.

Walaupun demikian, pada suatu hari sang Ibu jatuh sakit. Sakitnya sangat keras, sehingga perempuan itu mengkhawatirkan nasib anaknya jika sewaktu-waktu tiba waktunya untuk meninggalkan dunia ini. Karenanya, sang Ibu tak henti-hentinya memanjatkan devosi pada Sang Kannon untuk memohon perlindungan atas putrinya jika suatu saat dirinya harus berpulang.

Dewi Kannon yang muncul dalam mimpi sang Ibu

Dewi Kannon yang muncul dalam mimpi sang Ibu

Devosi sang Ibu sangat kuat, sehingga pada suatu malam, dewi Kannon muncul dalam mimpi perempuan itu. Dalam mimpi tersebut dewi Kannon menyuruh sang Ibu menaruh sebuah tempayan di kepala sang putri! Keheranan namun tetap patuh, sang Ibu pun menaruh tempayan di kepala putri kesayangannya tersebut.

Hachikazuki Hime dengan tempayan di kepalanya

Hachikazuki Hime dengan tempayan di kepalanya

Yang ditakutkan sang Ibu pun terjadi. Beberapa hari kemudian, perempuan itupun meninggal dunia.

Hachikazuki Hime menangisi kepergian ibunya.

Hachikazuki Hime menangisi kepergian ibunya.

Selepas kepergiannya, ayah sang putri pun datang menjemput putri itu untuk tinggal bersamanya*. Sebelum pergi sang ayah mencoba melepas tempayan yang dipasang mendiang istrinya itu dari kepala sang gadis, namun usahanya gagal! Tempayan itu melekat di kepala sang gadis seperti direkatkan dengan lem.

Ayah Hachikazuki Hime mencoba melepas tempayan itu dari kepala putrinya, namun usahanya tidak membuahkan hasil.

Ayah Hachikazuki Hime mencoba melepas tempayan itu dari kepala putrinya, namun usahanya tidak membuahkan hasil.

Hidup sang gadis menjadi jauh lebih sulit setelah tempayan itu dipasangkan di kepalanya. Anak-anak desa mencemooh dan melecehkan sang putri ke mana pun ia melangkah, bahkan melempari sang gadis dengan batu.

Anak-anak desa melecehkan Hachikazuki dan melemparinya dengan batu

Anak-anak desa melecehkan Hachikazuki dan melemparinya dengan batu

Masalah sang gadis bertambah runyam ketika sang ayah membawa pulang istri baru sebagai ibu tiri sang putri. Walaupun berparas cantik, perempuan itu sangat dingin dan jahat. Dia memanggil sang putri dengan nama julukan “Hachikazuki Hime”, yang artinya “Putri Tempayan”.

Ibu tiri putri Hachikazuki yang jahat.

Ibu tiri putri Hachikazuki yang jahat.

Ibu tiri sang gadis sangat jahat. Alih-alih memerlakukan Hachikazuki sebagai putrinya, gadis itu disuruh mengerjakan berbagai pekerjaan kasar. Setiap hari Hachikazuki harus memasak, menimba air, mencuci pakaian, dan berbagai pekerjaan lain yang sepantasnya dikerjakan pembantu rendahan.

Atas perintah Ibu tirinya, Hachikazuki Hime dipaksa mengerjakan berbagai pekerjaan kasar

Atas perintah Ibu tirinya, Hachikazuki Hime dipaksa mengerjakan berbagai pekerjaan kasar

Tak tahan dengan perlakuan keji yang menimpanya, pada suatu malam bersalju Hachikazuki memutuskan untuk kabur dari rumah. Dia tidak peduli ke mana kakinya melangkah, yang ada di pikirannya hanyalah untuk kabur sejauh mungkin dari tempat yang bukan lagi rumahnya sejak kepergian sang Ibu.

Hachikazuki Hime memutuskan kabur dari rumah

Hachikazuki Hime memutuskan kabur dari rumah

Sedih dan putus asa, Hachikazuki mencoba bunuh diri dengan menenggelamkan diri di sungai. Namun dia tidak bisa tenggelam; tempayan di kepalanya memaksa badannya tetap terapung di permukaan air.

Hachikazuki mencoba bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke sungai, namun gagal karena tempayan di kepalanya memaksanya mengapung.

Hachikazuki mencoba bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke sungai, namun usahanya gagal karena tempayan di kepalanya memaksanya mengapung.

Ketika Hachikazuki meratapi kemalangannya di sungai itu, tiba-tiba muncullah seorang bangsawan muda di dekatnya. Bangsawan itu menyelamatkan Hachikazuki dan membawa gadis itu ke rumahnya untuk dijadikan pembantu.

Hachikazuki diselamatkan oleh bangsawan muda yang kebetulan lewat di sekitar situ

Hachikazuki diselamatkan oleh bangsawan muda yang kebetulan lewat di sekitar situ

Hachikazuki bekerja dengan rajin di rumah sang bangsawan. Karena tuan rumah di sana memperlakukan pembantunya dengan baik, bukan hal yang tidak mungkin bagi para pembantu di sana untuk mendapatkan lungsuran barang pemilik rumah, salah satunya koto. Karenanya, di waktu malam setelah menyelesaikan pekerjaannya, Hachikazuki sering menghabiskan waktu dengan bermain koto.

Hachikazuki menghabiskan waktu dengan bermain koto

Hachikazuki menghabiskan waktu dengan bermain koto

Permainan musik Hachikazuki sangat  indah sehingga menarik perhatian sang bangsawan. Terdorong oleh rasa penasarannya,  laki-laki itu meminta Hachikazuki untuk menceritakan kisahnya, tentang bagaimana tempayan itu bisa menempel di kepalanya sampai apa yang terjadi ketika mereka bertemu. Hachikazuki pun menceritakan perjalanan hidupnya sambil tersedu.

"Tolong, ceritakan kisahmu," pinta si bangsawan

“Tolong, ceritakan kisahmu,” pinta si bangsawan

Mendengar kisah hidup gadis malang itu, sang bangsawan pun tersentuh dan ingin menikahi Hachikazuki. Namun tentu saja, orangtua laki-laki itu menolak! Mereka tidak ingin menjadi bahan cemooh orang banyak karena membiarkan putra mereka menikahi putri berkepala tempayan.

Sang bangsawan membulatkan hati untuk menikahi Hachikazuki Hime

Sang bangsawan membulatkan hati untuk menikahi Hachikazuki Hime

Walaupun demikian, laki-laki itu rupanya berkemauan keras! Di suatu malam, sang bangsawan muda mengajak Hachikazuki kawin lari bersamanya. Hachikazuki yang jatuh hati dengan kebaikan sang bangsawan pun memutuskan untuk ikut kabur bersama penyelamatnya tersebut.

Hachikazuki Hime dan kekasihnya pergi kawin lari

Hachikazuki Hime dan kekasihnya pergi kawin lari

Tidak lama setelah menempuh perjalanan mereka, pasangan kekasih tersebut menjumpai sebuah kuil yang diperuntukkan bagi sang Kannon di dekat rumah sang bangsawan. Sebagai umat Buddha yang taat, pasangan kekasih tersebut berdoa di sana untuk memohon keselamatan dalam perjalanan mereka. Saat itulah dewi Kannon menampakkan mukjizatnya. Tempayan di kepala sang putri yang sebelumnya tidak dapat dilepas, tiba-tiba retak dan terbelah menjadi dua!

Tempayan di kepala putri Hachikazuki terbelah menjadi dua

Tempayan di kepala putri Hachikazuki terbelah menjadi dua

Di dalam tempayan tersebut terdapat sisir yang dulu sering digunakan sang Ibu untuk menyisir rambut sang gadis. Sisir tersebut adalah bukti bisu bahwa doa sang Ibu serta mukjizat sang Kannonlah  yang telah menghantar dua insan tersebut sehingga mereka dapat bertemu.

Hachikazuki Hime dan si bangsawan berterima kasih atas perlindungan sang Kannon dan doa sang Ibu

Hachikazuki Hime dan si bangsawan berterima kasih atas perlindungan sang Kannon dan doa sang Ibu

Pasangan kekasih itu pun memutuskan untuk pulang dan menceritakan kejadian tersebut pada orangtua si bangsawan.  Kagum mendengar kisah Hachikazuki dan terpana dengan kecantikannya, orangtua si bangsawan akhirnya menyetujui pernikahan anak laki-laki mereka dengan si gadis. Pada akhirnya, Hachikazuki Hime dan sang bangsawan hidup bahagia selama-lamanya.

Hachikazuki Hime hidup bahagia bersama sang bangsawan. Di belakang mereka, berdiri kedua orang tua sang bangsawan yang menyaksikan keduanya sambil tersenyum.

Hachikazuki Hime hidup bahagia bersama sang bangsawan. Di belakang mereka, berdiri kedua orang tua sang bangsawan yang menyaksikan keduanya sambil tersenyum.

Catatan:

*Pasangan suami istri yang tinggal beda rumah lazim ditemui di zaman Heian, terutama jika istri yang dimaksud hanyalah selir (simpanan) sang suami.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *