03 Aug

Shinda Tsuma no Akuryou (Roh Gentayangan Sang Istri)

Cerita ini disarikan dari serial animasi Folktales from Japan (Furusato Saisei: Nihon no Mukashi Banashi) episode 227 bagian 1, dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri dari keluarga bangsawan di Ibukota*. Pada suatu malam, sang suami pulang lebih larut daripada biasanya. Karena sang suami takut dimarahi istrinya, akhirnya dia tidak pernah pulang lagi ke rumahnya.

Di rumah, sang istri menantikan kedatangan suaminya dengan cemas. Penantiannya sia-sia, laki-laki itu tidak pernah datang.

Sang istri yang menunggu kepulangan sang suami.

Sang istri yang menunggu kepulangan sang suami.

Malam demi malam berlalu. Sang istri kini tinggal sendirian di rumahnya yang kini  sudah tidak terurus. Dalam kesendiriannya, dia tetap memikirkan sang suami. Rasa sedih dan khawatir terus menyerangnya sampai akhirnya perempuan malang itu jatuh sakit dan meninggal.

Mayat sang istri dibiarkan tergeletak tanpa diurus

Mayat sang istri dibiarkan tergeletak tanpa diurus

Di penghujung ajal, sang istri mendendam pada sang suami yang sampai hati meninggalkannya. Tidak ada seorangpun yang datang menjenguknya, mayatnya dibiarkan tergeletak di sana. Rumah itu pun menjadi tidak berpenghuni. Desas-desus orang yang lewat berkata bahwa mereka sering melihat cahaya misterius mirip api keluar masuk dari jendela rumah itu.

Penampakan cahaya yang keluar masuk rumah

Penampakan cahaya misterius yang keluar masuk rumah

Bertahun-tahun pun berlalu. Di suatu malam, tersebutlah seorang pencuri yang menyelinap masuk ke rumah yang sekarang sudah tidak berpenghuni itu. Sambil mencari barang berharga, pencuri itu berjalan menyusuri pelataran rumah. Di sana, dia berpapasan dengan hantu sang istri.

“Terkutuklah Anda, Tuan! Lihat saja; saya pasti akan menemukan dan membunuh Tuan!” jerit hantu perempuan malang itu. Kecantikannya sudah pudar; saat ini sang istri tinggal tulang belulang dengan rambut kusut dan baju yang compang-camping. Tubuhnya diselimuti cahaya misterius seperti cahaya api roh. Dia terbang menyergap si pencuri.

Roh sang istri yang terbang menuju sang pencuri

Roh sang istri yang terbang menuju sang pencuri

Rumor mengenai arwah gentayangan sang istri pun sampai ke telinga para bangsawan. Dalam setiap kesempatan, mereka berdesas-desus mencemooh sang suami. Kecil hatinya membayangkan akan dibunuh oleh sang istri, bangsawan itu datang mengunjungi seorang pendeta yang juga bekerja sebagai onmyouji**, maksudnya hendak menyelamatkan muka dan nyawanya sendiri.  “Berapapun uang yang Anda minta akan saya bayar, tapi saya mohon; selamatkanlah saya!” pinta sang suami.

Raut wajah sang suami gelisah, hatinya takut dibunuh sang istri.

Raut wajah sang suami gelisah, hatinya takut dibunuh sang istri.

“Baiklah.” Sang onmyouji menyanggupi permintaan tersebut. “Tapi ini tidak akan mudah. Anda harus mampu menghadapi ketakutan yang sedemikian hebatnya agar bisa selamat.”

“Tidak apa-apa!” sergah sang suami. “Saya mau melakukan apapun, jadi tolong selamatkan saya!”

Sang onmyouji bertemu muka dengan sang suami

Sang onmyouji bertemu muka dengan sang suami

“Kalau begitu ikuti saya,” jawab onmyouji itu. Dia membawa sang suami pergi ke rumah tempat roh sang istri sekarang gentayangan. Bangsawan itu mengikutinya dengan terpaksa. Hendaknya ingin tinggal di rumah saja sampai sang onmyouji berhasil mengusir arwah istrinya.

Sang suami mengintip dari balik pundak sang onmyouji dalam perjalanan mereka mencari roh sang istri.

Sang suami mengintip dari balik pundak sang onmyouji dalam perjalanan mereka mencari roh sang istri.

Setelah berkeliling beberapa saat, tibalah mereka ke ruangan tempat mayat sang istri berbaring. Belakangan, barulah sang suami memahami makna “ketakutan” yang dimaksud sang pendeta.

Mayat sang istri tergeletak setelah ditinggalkan bertahun-tahun.

Mayat sang istri tergeletak setelah ditinggalkan bertahun-tahun.

“Pegang ujung rambut istri Anda,” perintah pendeta itu. Dia menempelkan jimat ke dahi sang bangsawan, kemudian berujar lagi, “Jimat ini akan menyembunyikan Anda dari hantu itu selama Anda tidak berbicara, jadi setakut apapun Anda, jangan berbicara barang sepatah katapun dan jangan lepaskan pegangan Anda!” Dia melanjutkan, “Saya akan  pergi sebentar untuk menyiapkan ritual. Sekali lagi, jangan berbicara!”

Sang onmyouji menempelkan jimat di dahi sang suami

Sang onmyouji menempelkan jimat di dahi sang suami

“Jangan! Saya mohon, jangan tinggalkan saya!” seru bangsawan itu dengan panik. Tapi pendeta itu tetap pergi. Sekarang hanya tinggal sang suami berdua dengan istrinya.

Sang suami berbaring berhadap-hadapan dengan mayat sang istri sambil memegang ujung rambut mayat itu

Sang suami berbaring berhadap-hadapan dengan mayat sang istri sambil memegang ujung rambut mayat itu

Malam telah larut. Seperti yang ditakutkan sang suami, mayat perempuan itu bangkit. Rupanya sangat mengerikan, sungguh, hanya tinggal tulang tanpa kulit dan daging sebagai rupa perempuan yang dulunya jelita tersebut.

"Ke mana suami saya?"

“Ke mana suami saya?”

“Ke mana suami saya?!” jerit sang istri. “Ke mana dia selama ini, ke mana dia pergi meninggalkan saya?!” Roh itu menjerit nyaring. Tubuhnya bercahaya dengan api roh yang sering didesas-desuskan banyak orang. Perempuan itu  kemudian terbang mencari suaminya; walaupun tanpa sepengetahuannya sang suami sedang memegangi rambutnya.

Roh sang istri terbang mencari suaminya

Roh sang istri terbang mencari suaminya

Di luar, sang onmyouji sudah menyiapkan peralatan untuk memulai ritual. Dia berdiri menghadap api sambil membaca mantra.

Sang onmyouji berdiri menghadap api sambil komat-kamit membaca mantra pengusiran

Sang onmyouji berdiri menghadap api sambil komat-kamit membaca mantra pengusiran

“Mana suami saya?” pekik sang istri. “Siapa ini, siapa yang berani-beraninya mencoba menghentikan saya?!” Hantu itu berkeliling. Dari atas sana, dia menemukan siluet cahaya dari api yang dikobarkan sang pengusir setan.

“Di sana, ya?” seru sang arwah. “Jadi kamu yang menggangguku? Bawakan suamiku!” jerit perempuan itu sambil melesat ke bawah. “Jangan sembunyikan dia!” Dia bersiap-siap membunuh sang onmyouji, sementara suaminya masih bergelantungan di bawahnya.

Arwah sang istri mencari pengganggunya sambil terbang tinggi

Arwah sang istri mencari pengganggunya sambil terbang tinggi

Petir menggelegar. Akhirnya nyali sang suami menciut dan dia berteriak pada sang onmyouji, “Tolong hentikan ritualnya! Lebih baik saya mati daripada menjalani ritual ini!”

“Oh, di sana ya?” teriak sang istri. Dia melihat ke belakang, namun dia malah menemukan suaminya alih-alih si pengganggu.

"Tu-tuan?" bisik sang istri.

“Tu-tuan?” bisik sang istri.

Di bawah, sang onmyouji mempersiapkan ritual untuk menyucikan roh jahat. Dia membaca mantra dan membakar roh sang istri.

Roh gentayangan sang istri terbakar habis oleh api penyucian sang onmyouji

Roh gentayangan sang istri terbakar habis oleh api penyucian sang onmyouji

Sesampainya di bawah, sang suami jatuh terbaring. Di depannya, roh sang istri yang sekarang sudah disucikan berdiri memandangi sang suami sambil tersenyum.

Sang istri memandangi suaminya yang jatuh terbaring.

Sang istri memandangi suaminya yang jatuh terbaring.

“Akhirnya.. Tuan pulang  ya? Akhirnya Tuan kembali kepada saya. Sudah lama saya menunggu Tuan, sudah lama sekali…” tutur arwah sang istri sambil tersenyum. “Saya bahagia Tuan pulang.” Setelah mengucapkan semua itu, roh sang istri pun jatuh dan lenyap.

Roh sang istri tersenyum sambil memandangi suaminya

Roh sang istri tersenyum sambil memandangi suaminya

Kengerian malam itu pun usai dan fajar menyingsing. Arwah sang istri telah mewujudkan keinginan terakhirnya, yaitu kepulangan laki-laki yang dicintainya. Tidak ada yang tersisa dari roh gentayangan sang istri, sebaliknya; sang suami nampak seolah telah kehilangan jiwanya.

Sang suami terlihat jauh lebih tua dan letih setelah ritual berakhir

Sang suami terlihat jauh lebih tua dan letih setelah ritual berakhir

Catatan:

*Ibu kota: Heian-kyo atau sekarang dikenal dengan nama Kyoto

**Onmyouji: Orang yang mempraktikkan ilmu Onmyoudo  (lihat lebih jauh di Wikipedia)

 

62 total views, 1 views today


Dukung penulis dengan membagikan cerita ini :)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *