01 Jul

Yabureta Yakusoku (Ingkar Janji)

Cerita ini disarikan dari serial animasi Folktales from Japan Season 1 (Furusato Saisei:Nihon no Mukashi Banashi) episode 229 bagian 1, dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang saling mengasihi. Sang suami adalah samurai berpangkat tinggi yang bekerja langsung di bawah perintah Shogun. Sayang, pada suatu hari sang istri jatuh sakit. Sakitnya sangat keras sampai dia tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu, kulitnya kering dan matanya cekung sampai seolah-olah bola matanya akan keluar sewaktu-waktu.

Sang suami sedang menemani istrinya yang akan meregang napas terakhir.

Sang suami sedang menemani istrinya yang akan meregang napas terakhir.

Di suatu musim panas,ketika sang istri sudah mendekati penghujung ajalnya dan mereka sedang berdua saja, perempuan itu berkata pada suaminya.

“Saya tidak takut mati,” ujar sang istri, “tapi saya gelisah, perempuan manakah yang akan Tuan ambil sebagai istri selepas kepergian saya?” Sang suami membalas, “Tidak akan ada yang bisa menggantikanmu! Aku tidak akan menikah lagi.” jawabnya. Perempuan yang sudah mendekati mati itu terhenyak pada kata-kata suaminya.

“Benarkah? Maukah Tuan bersumpah dengan mempertaruhkan harga diri Tuan?” bisik sang istri. Laki-laki itu terperanjat dan ragu sejenak, namun pikirnya untuk menenangkan istrinya, dia berkata, “Tentu saja! Aku bersumpah dengan taruhan harga diriku,” demikian sumpah sang suami.

"Maukah Tuan bersumpah dengan mempertaruhkan harga diri Tuan?" bisik lemah sang istri dari tempat tidurnya.

“Maukah Tuan bersumpah dengan mempertaruhkan harga diri Tuan?” bisik lemah sang istri dari tempat tidurnya.

“Kalau begitu nanti, sesudah saya mati, kuburkanlah saya di bawah pohon plum yang kita tanam waktu itu. Sertakan pula lonceng yang dulu Anda berikan kepada saya,” pinta sang istri. “Sekarang saya bisa pergi dengan tenang.” Seusai menyelesaikan kata-katanya, sang istri pun meninggal dunia.

Lonceng yang diberikan sang suami pada istrinya ketika mereka menikah.

Lonceng yang diberikan sang suami pada istrinya ketika mereka menikah.

Musim demi musim pun berganti. Belum sampai satu tahun, sang suami yang sekarang menduda itu terus didesak keluarganya untuk menikah lagi dan melanjutkan garis keturunan keluarga. Sebelumnya dia memang tidak berpikir untuk menikah lagi, namun akhirnya laki-laki itu menyerah dan mengambil istri lagi.

Sang suami menikah lagi walau kepergian istrinya belum sampai setahun.

Sang suami menikah lagi walau kepergian istrinya belum sampai setahun.

Istrinya yang sekarang tahu bahwa suaminya menduda karena ditinggal mati istri yang sebelumnya dan tetap menerima suaminya apa adanya. Sesudah resmi masuk ke rumah sebagai istri yang baru, sang istri baru berikut suaminya berziarah ke makam istri lama.

Sang istri muda sedang berziarah ke makam istri lama bersama suaminya.

Sang istri muda sedang berziarah ke makam istri lama bersama suaminya.

“Aku akan menyayangi suamiku dan melindungi keluarga ini,” demikian janji perempuan muda itu di depan makam. Sang suami merasa agak bersalah pada istrinya yang dulu, namun tidak lama kemudian dia pun jatuh hati pada istri barunya yang muda dan cantik. Mereka hidup bahagia seperti layaknya pasangan yang baru menikah.

Sang suami hidup bahagia dengan istri barunya.

Sang suami hidup bahagia dengan istri barunya.

Suatu hari, sang suami ditugaskan menghadiri rapat bersama para samurai lainnya. Malam itu adalah kali pertama sang istri ditinggal sendiri di rumah setelah mereka menikah. Entah kenapa, hari itu dia merasa sangat gelisah. Dia tidak bisa tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Tiba-tiba, dia mendengar denting lonceng dari halaman rumah.

Sang istri muda tidak bisa tidur pada kali pertama ditinggal suaminya bertugas.

Sang istri muda tidak bisa tidur pada kali pertama ditinggal suaminya bertugas.

“Tring!”

“Kenapa ada bunyi lonceng malam-malam begini?” pikir sang istri. Dia mencoba bangun, tapi mendadak sekujur tubuhnya lumpuh dan lidahnya kelu. Di luar kamarnya, tampak samar-samar bayangan seorang wanita yang sedang berjalan sambil membawa lonceng.

Tampak bayangan sesosok perempuan yang berjalan sambil membawa lonceng di luar pintu kamar tidur sang istri.

Tampak bayangan sesosok perempuan yang berjalan sambil membawa lonceng di luar pintu kamar tidur sang istri.

“Tring!” Bunyi lonceng itu pun kembali terdengar. Pintu kamar wanita itu terbuka, dan tampaklah sosok hantu seorang perempuan, lengkap dengan pakaian putih yang biasa dikenakan orang mati balik pintu. Hantu itu terlihat marah. Ia membungkuk di belakang sang istri muda.

Sesosok hantu perempuan melangkah masuk ke kamar tidur sang istri muda.

Sesosok hantu perempuan melangkah masuk ke kamar tidur sang istri muda.

“Pergi dari sini! Jika kamu mau pergi tanpa memberitahu satu nyawa pun, aku akan membiarkanmu hidup,” ancam si hantu. Perempuan muda itu menggigil dan bangun. Dia kira kejadian itu hanya mimpi karena kesepian ditinggal suaminya, walaupun rasanya mimpi itu begitu nyata.

"Pergi dari sini!" bisik hantu itu sambil mencengkeram leher sang istri di mimpi pertama.

“Pergi dari sini!” bisik hantu itu sambil mencengkeram leher sang istri di mimpi pertama.

Walaupun demikian, kejadian itu terulang lagi. Malam itu juga, sang suami pergi bertugas lagi dan sang istri pun kembali ditinggal sendirian. Di mimpi kali ini, si hantu terlihat lebih marah dari sebelumnya. Dia menindih badan sang istri muda dan menjerit.

Penampakan sosok hantu yang menindih badan sang istri di mimpi kedua.

Penampakan sosok hantu yang menindih badan sang istri di mimpi kedua.

“Pergi! Pergi sekarang!”jerit si hantu, “Atau badanmu akan kucabik-cabik!” Hantu itu menjerit dan memukuli badan sang istri. Sang istri muda sangat ketakutan sehingga besoknya, dia langsung memohon cerai pada suaminya dengan badan gemetaran. Suaminya pun bertanya-tanya, karena sebelumnya sang istri baik-baik saja.

"Tolong ceraikan saya, Tuan," bisik sang istri yang ketakutan.

“Tolong ceraikan saya, Tuan,” bisik sang istri yang ketakutan.

“Ada apa? Apa yang membuatmu takut begini?” tanya sang suami. Sang istri tidak berani  menceritakan yang sebenarnya karena dia takut pada si hantu, jadi dia hanya menjawab, “Saya harus bercerai dengan Tuan atau saya akan mati,” pinta sang istri sambil menangis. Jelas suaminya menolak. “Aku tidak bisa menceraikanmu karena aku telah gagal melindungimu,” tolak sang suami dengan lembut. “Jadi apa yang terjadi?” Perempuan itu tergugah dengan kesungguhan suaminya dan menceritakan kedua mimpinya kemarin.

Sang istri menceritakan kedua mimpinya pada suaminya sambil gemetar ketakutan.

Sang istri menceritakan kedua mimpinya pada suaminya sambil gemetar ketakutan.

“Aku mengerti. Pasti ada yang membisikkan sesuatu padamu sampai kamu bisa bermimpi buruk seperti itu,” balas sang suami setelah mendengarkan cerita istrinya. “Tapi aku harus pergi lagi malam ini. Nanti aku akan menugaskan dua orang bawahan yang bisa kupercaya untuk menjagamu. Apa itu akan membantu?”

Sang suami mencoba menenangkan istrinya yang panik.

Sang suami mencoba menenangkan istrinya yang panik.

“Ya, Tuan,” jawab sang istri. Setelah perbincangan itu, sang istri pun merasa lebih baik dan memutuskan untuk tetap tinggal. Demikian, hingga pada malam itu sang suami pun kembali bertugas dan sesuai janjinya, dia meninggalkan dua laki-laki berperawakan gagah dan bertanggung jawab untuk menjaga istrinya. Para bawahan itu menceritakan banyak cerita lucu untuk menghibur sang istri. Perempuan muda itupun terhibur dan merasa lebih baik , kemudian dia pergi tidur. Kedua laki-laki itu menjaga sang istri di kamar tidurnya sambil bermain go.

Kedua bawahan yang diutus sang suami menceritakan berbagai cerita lucu untuk menghibur sang istri.

Kedua bawahan yang diutus sang suami menceritakan berbagai cerita lucu untuk menghibur sang istri.

Walaupun demikian, malam itu kejadian yang sama pun berulang. Sama seperti kedua malam sebelumnya, dia mendengar suara lonceng.

Sang istri bangun karena mendengar suara lonceng itu.

Sang istri bangun karena mendengar suara lonceng itu.

“Tring!”

Seketika itu juga, sang istri muda pun bangun dengan panik. “Siapapun, apa ada orang di sini?!” Ia menghampiri para bawahan yang ditugaskan untuk menjaganya, namun tak disangka, kedua bawahan itu mematung seperti batu.

Sang istri mendapati kedua bawahan suaminya duduk diam mematung, seolah-olah waktu berhenti.

Sang istri mendapati kedua bawahan suaminya duduk diam mematung, seolah-olah waktu berhenti.

Perempuan malang itu ketakutan. Dia melihat ke belakang, dan.. si hantu sudah berada di depan pintu kamarnya.

“Tring!”

Sang istri tersentak. Dia berjalan mundur, niatnya mencoba kabur dari si hantu.

Sosok hantu mendekati sang istri.

Sosok hantu mendekati sang istri.

“Tring!”

Pintu kamar tidur sang istri terbuka. Sang hantu pun berjalan masuk sambil memegang lonceng.

Sang hantu masuk sambil membawa lonceng.

Sang hantu masuk sambil membawa lonceng.

“Tring!”

Sang istri hanya bisa diam pucat pasi sambil menangis.

Sang istri menangis karena tahu, kali ini dia akan mati.

Sang istri menangis karena tahu, kali ini dia akan mati.

Besoknya, sang suami berikut para bawahannya menemukan istrinya sudah terbujur kaku di depan makam sang istri lama. Dari tubuh perempuan itu ditemukan lonceng yang dia berikan ke istri pertamanya dulu.

Esoknya, mereka menemukan mayat sang istri terbujur kaku di depan makam istri lama.

Esoknya, mereka menemukan mayat sang istri terbujur kaku di depan makam istri lama.

“Ini lonceng yang dulu kukubur bersama istriku!” seru sang suami. “Kenapa dia tidak membunuhku saja?” isaknya sambil memeluk mayat sang istri muda yang sekarang sudah berpulang.

Sang suami memeluk mayat istri mudanya sambil menangis tersedu. Di belakangnya, kedua bawahannya berdiri memandangi tuan mereka dengan sedih.

Sang suami memeluk mayat istri mudanya sambil menangis tersedu. Di belakangnya, kedua bawahannya berdiri memandangi tuan mereka dengan sedih.

Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Pada akhirnya, dialah yang telah bersumpah dan istrinya hanya memastikan dia menepati sumpah itu.

 

 

172 total views, 1 views today


Dukung penulis dengan membagikan cerita ini :)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *