30 Jun

Akoya no Matsu (Pohon Pinus Akoya)

Cerita ini disarikan dari serial animasi Folktales from Japan (Nihon no Mukashi Banashi)  Season 2 episode 8 bagian 1, dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, di Uzen, hiduplah seorang putri yang masih muda dan cantik. Putri ini dikenal dengan sebutan Akoya Hime.

Akoya Hime yang sedang duduk bersimpuh sambil memegang kipas di depan koto.

Akoya Hime yang sedang duduk bersimpuh sambil memegang kipas di depan koto.

Akoya Hime adalah anak seorang pejabat Istana yang menjabat sebagai Kokushi. Di suatu waktu, ayah sang putri ditugaskan ke suatu tempat yang jauh. Dalam kepindahannya, ia turut serta memboyong keluarga dan para pelayannya. Akoya Hime pun ikut diajak ke sana.

Iring-iringan para pelayan yang mengikuti kepindahan keluarga putri Akoya.

Iring-iringan para pelayan yang mengikuti kepindahan keluarga putri Akoya.

Daerah di luar ibu kota sangat membosankan, sehingga sesampainya di sana, putri Akoya menghabiskan waktunya dengan bermain koto. Di suatu senja musim semi, ketika sang putri sedang bermain koto sendirian, tiba-tiba ada suara seruling yang mengiringinya bermain.

Suara seruling misterius menemani Putri Akoya yang sedang bermain koto sendirian.

Suara seruling misterius menemani Putri Akoya yang sedang bermain koto sendirian.

Bunyi seruling itu sangat merdu, sehingga sang putri pun semakin tenggelam dalam permainannya. Akoya Hime pun bertanya-tanya, siapakah gerangan yang memainkan musik seindah itu? Karenanya dia beranjak keluar dari kamarnya, dan melihat ke halaman rumahnya. Di sana, ia menemukan sesosok pria yang tidak pernah ia lihat.

Sosok pria asing yang mengiringi permainan koto sang putri.

Sosok pria asing yang mengiringi permainan koto sang putri.

“Siapakah Anda?” tanya Akoya. “Aku dikenal dengan sebutan Tarou dari Natori,” jawab pria itu, “dan aku tinggal di gunung Chitose.”

Pria itu hanya muncul untuk bermain seruling ketika Akoya Hime bermain koto, sehingga setelah pertemuan itu, Akoya Hime terus bermain koto sepanjang hari agar dapat bertemu dengan sang lelaki. Akoya pun merasa bahagia karena dapat terus bertemu dengan Tarou.

Putri Akoya sedang bermain koto dengan iringan seruling Tarou dari Natori.

Putri Akoya sedang bermain koto dengan iringan seruling Tarou dari Natori.

Suatu hari, Tarou membuat pengakuan yang mengejutkan. “Sebenarnya aku adalah roh dari pohon pinus di puncak gunung Chitose,” tuturnya, “dan sebentar lagi aku akan ditebang untuk membuat jembatan yang melintasi sungai Chitose.” Akoya tercengang akan pernyataan ini. Melihat wajah Akoya yang kebingungan, Tarou hanya tersenyum dan melanjutkan, “Saat waktu itu tiba, maukah kamu mengucapkan selamat tinggal padaku?”

Di hari terakhir mereka bertemu, Tarou meminta Akoya untuk mengucapkan selamat tinggal setelah dia ditebang.

Di hari terakhir mereka bertemu, Tarou meminta Akoya untuk mengucapkan selamat tinggal setelah dia ditebang.

Beberapa hari kemudian, kabar yang membenarkan kata-kata Tarou pun datang. Ayah putri Akoya telah memerintahkan para penduduk desa untuk menebang pohon pinus di puncak gunung Chitose agar dapat dijadikan jembatan. Tentu saja Akoya tidak ingin pohon itu  ditebang, tapi jelas dia tidak bisa memberontak pada keinginan ayahnya.

Pohon pinus raksasa di puncak gunung Chitose.

Pohon pinus raksasa di puncak gunung Chitose.

Hari itu pun tiba. Saat sudah waktunya, Akoya pergi diam-diam menuju tempat pohon tersebut berdiri dan bersembunyi. Dari tempat persembunyiannya, dia melihat puluhan laki-laki berbadan kekar berkumpul dan menebang pohon pinus raksasa itu.

Putri Akoya mengendap-endap pergi ke gunung tempat pohon pinus itu berdiri.

Putri Akoya mengendap-endap pergi ke gunung tempat pohon pinus itu berdiri.

Walaupun pohon itu berhasil ditebang, tidak ada seorangpun yang berhasil memindahkan pohon itu barang seinci dari tempatnya. Saat melihatnya, Akoya mendadak paham apa yang dimaksudkan Tarou di kali terakhir mereka bertemu.

Para penduduk desa bersusah payah memindahkan pohon itu.

Para penduduk desa bersusah payah memindahkan pohon itu.

Akoya pun keluar dari tempat persembunyiannya. Dia bertanya pada ayahnya, “Ayahanda, bolehkah saya ikut menarik pohon ini?” Ayah putri Akoya yang kaget pun berkata, “Apa maksudmu? Bahkan laki-laki pun tidak sanggup memindahkan pohon ini!” Namun karena Akoya terus membujuk, akhirnya ayah sang putri pun memberikan kesempatan pada anaknya untuk mencoba.

Akoya pun mendekat ke batang pohon itu. Dia berbisik lirih, “Jadi inikah yang kamu maksud saat itu? Selamat tinggal.”

Putri Akoya mengucapkan salam perpisahan terakhir pada roh pohon pinus dengan lirih.

Putri Akoya mengucapkan salam perpisahan terakhir pada roh pohon pinus dengan lirih.

Kemudian, sang putri mulai menarik pohon raksasa itu. Anehnya, sekarang pohon itu mau dipindahkan, seolah-olah sedang digelindingkan dengan roda!

Putri Akoya mampu menarik pohon pinus itu dengan mudah. Di belakangnya, ayah putri Akoya memandang putrinya dengan takjub.

Putri Akoya mampu menarik pohon pinus itu dengan mudah. Di belakangnya, ayah putri Akoya memandang putrinya dengan takjub.

Pada akhirnya, orang-orang menanam pohon pinus baru di dekat pohon yang baru ditebang itu. Putri Akoya pun membangun sebuah gubuk di sebelah pohon mungil itu dan merawatnya hingga akhir hayatnya. Di masa depan, pohon itu dikenal dengan sebutan Pinus Akoya dan menjadi pohon yang paling terkenal di gunung Chitose.

Putri Akoya merawat pohon pinus pengganti pohon sang Tarou dari Natori sampai akhir hayatnya.

Putri Akoya merawat pohon pinus pengganti pohon sang Tarou dari Natori sampai akhir hayatnya.

 

 

 

 

 

 

 

150 total views, 1 views today


Dukung penulis dengan membagikan cerita ini :)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


One thought on “Akoya no Matsu (Pohon Pinus Akoya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *