26 Dec

Mengenai Seorang Perempuan yang Durhaka pada Ibunya dan Mati Mengenaskan

Cerita ini disarikan dari terjemahan Nihon Ryoiki oleh Burton Watson (2013) dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, di ibu kota yang lama, hiduplah seorang perempuan yang tidak bernama. Perempuan ini tidak memiliki barang secuil pun rasa hormat kepada yang lebih tua dan rasa kasih pada ibunya.

Pada suatu hari, seluruh umat Buddha diwajibkan berpuasa. Karena hari itu sang Ibu ikut berpuasa, beliau tidak memasak nasi di rumah, jadi dia pergi ke rumah anaknya untuk meminta makanan. Tak disangka-sangka, anak perempuannya menghardiknya, katanya, “Hari ini saya dan suami saya juga berpuasa, jadi makanan yang ada hari ini hanya cukup untuk kami berdua. Kami tidak punya makanan untukmu, Bu!”

Pada waktu itu, sang Ibu juga punya anak lain yang masih kecil. Ketika dia dan anaknya yang masih kecil itu pulang sambil menahan lapar, mereka melihat bungkusan nasi yang ditinggalkan orang di pinggir jalan. Perempuan malang itu mengambilnya dan memakannya sambil tergesa, kemudian jatuh terlelap karena kelelahan. Malamnya, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya, katanya, “Anakmu bilang dia merasa ada paku yang menusuk dadanya dan sedang sekarat! Datang dan jenguklah dia!” Namun, sang Ibu sangat kelelahan sampai tidak ada yang bisa membangunkan dan meminta bantuannya, sehingga pada akhirnya si anak durhaka mati tanpa sempat melihat wajah Ibunya.

Lebih baik kita memberikan jatah kita dan mati kelaparan daripada durhaka pada Ibu kita!

Vol 1, Tale 24

DAFTAR PUSTAKA:

K., Watson, B., & Shirane, H. (2013). Record of miraculous events in Japan: The Nihon ryōiki. New York: Columbia University Press.

194 total views, 1 views today


Dukung penulis dengan membagikan cerita ini :)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *