04 Feb

Fujiwara no Noritaka Menggubah Puisi Bahkan Setelah Dia Meninggal

Cerita ini disarikan dari terjemahan Konjaku Monogatari Shu oleh Naoshi Koriyama dan Bruce Allen (2015) dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang bangsawan muda yang bernama Fujiwara no Noritaka, seorang pejabat peringkat ketiga dari divisi U-konoe*, putra Perdana Menteri Ichijo. Dia berparas rupawan dan kepribadian serta bakatnya melebihi orang kebanyakan. Dia juga merupakan seorang penganut ajaran Buddha yang taat, sehingga sangat disayangkan ketika dia meninggal di usia muda. Semua orang yang mengenalnya sangat berduka atas kepergiannya, namun tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Read More

358 total views, no views today

02 Feb

Seorang Perempuan Melihat Suaminya yang Sudah Tiada Datang Mengunjunginya

Cerita ini disarikan dari terjemahan Konjaku Monogatari Shu oleh Naoshi Koriyama dan Bruce Allen (2015) dengan perubahan.

Pada zaman dahulu kala, tinggallah seorang laki-laki di salah satu daerah di provinsi Yamato. Laki-laki itu memiliki seorang anak perempuan yang berparas cantik dan berhati lembut. Dia dan istrinya membesarkan anak perempuannya dengan sangat hati-hati.

Terdapatlah pula seorang laki-laki yang tinggal di salah satu daerah di provinsi Kawachi. Dia memiliki anak laki-laki yang sangat tampan. Pemuda ini pergi ke ibu kota untuk bekerja di Kekaisaran dan dia sangat pintar bermain seruling. Pemuda ini juga berhati baik, sehingga dia sangat disayang oleh kedua orang tuanya.

Read More

310 total views, no views today

02 Feb

Hal-hal yang Mengharukan

Seorang anak yang mengenakan pakaian berkabung untuk memperingati kepergian orangtuanya.

Seorang lelaki muda dari keluarga baik-baik yang melakukan persiapan yang sangat ketat sebelum menjalani ritual tapa Mitake. Rasanya sangat mengharukan ketika membayangkan laki-laki itu mengurung dirinya sendirian di kamar sambil berdoa di waktu fajar, badannya membungkuk serendah-rendahnya hingga dahinya menyentuh lantai. Bisa dibayangkan pula ketika orang yang dikasihi laki-laki itu terjaga di kamar lain dan mendengar kekasihnya mendaraskan doa. Ketika lelaki itu pergi menjalani tapanya, dia akan menunggu dalam diam sambil mengharapkan keselamatannya, dan bayangkan bagaimana leganya ketika laki-laki itu kembali dengan selamat. Walaupun demikian, suasana akan kurang mengharukan jika laki-laki itu kembali dengan mengenakan topi tingginya. Sepengetahuanku, bahkan mereka yang statusnya sangat tinggipun akan mengenakan pakaian yang sangat lusuh ketika menjalani ritual tapa Mitake.

Read More

248 total views, no views today

01 Feb

Budaya Mandi dan Pemandian di Jepang Sebelum Tahun 1400

Budaya mandi di Jepang sudah ada sejak lama, bahkan mungkin sejak manusia mulai berdiam di sana. Sejarawan Cina yang datang di Wa (sebutan Jepang zaman dahulu) pada abad ketiga mencatat bahwa para penduduk Wa sudah mengenal budaya mandi dan membersihkan diri, walaupun hanya untuk menyucikan dan memurnikan diri dari segala sesuatu yang najis. Anggapan ini mungkin disebabkan oleh kondisi geografis Jepang yang memiliki banyak sumber mata air panas alami. Karenanya, budaya mandi sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jepang zaman dahulu, walaupun tidak dilakukan secara teratur.

Read More

1,107 total views, no views today