13 Oct

Dia

Ada kalanya saya mempertanyakan eksistensi-Nya. Dia yang disebut Allah, Tuhan, Raja Segala Raja.

Ada kalanya saya dibuat menangis oleh-Nya. Ketika saya berusaha mencari pembenaran atas segala tindakan-Nya, bahwa apa yang Dia lakukan selalu benar. Bahwa Dia sebenarnya Welas Asih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Baik dan Maha Pemurah. Bahwa sesungguhnya Dia tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya dalam kesengsaraan. Bahwa Dia sebenarnya ikut menderita atas kesalahan yang diperbuat umat-Nya. Bahwa Dia sangat menyayangi umat-Nya, termasuk saya yang bahkan tidak layak untuk meminta belas kasihan-Nya.

Ada kalanya saya dikecewakan oleh-Nya. Ketika saya sangat menaruh harapan pada-Nya, Dia yang bisa menjadikan segala sesuatu hingga yang mustahil sekalipun di mata manusia. Dia yang menjatuhkan harapan saya serendah-rendahnya ketika saya meninggikan diri saya di hadapan-Nya. Dia yang memurukkan saya di bawah tonggak harga diri saya yang menjulang tinggi, di bawah kaki saya yang bersikeras bangkit, di bawah secerca harapan saya yang pupus ketika melihat langit.

Ada kalanya saya dibuat marah oleh-Nya. Ketika saya tidak sanggup lagi menahan kegusaran saya pada-Nya, Tuhan yang saya sembah sebagai Imam, Gembala dan Raja.  Tuhan yang saya yakini akan menjaga saya dari segala malapetaka. Tuhan yang saya imani akan menjadi pembimbing saya dalam meniti jalan kehidupan. Tuhan yang saya akui sebagai Tuhan, satu-satunya Tuhan Allah yang saya agungkan dan muliakan. Tuhan yang dalam segala kesempurnaan dan kemuliaan-Nya membiarkan para umat-Nya menderita di seluruh penjuru dunia. Tuhan yang dalam segala keagungan-Nya melihat dalam diam, kerisauan umat-Nya ketika mereka menempuh jalan terjal dengan mata tertutup dan tangan terikat.

Ada kalanya saya diuji oleh-Nya. Ketika saya berada pada titik puncak kesombongan, saya dijatuhkan sedalam-dalamnya ke dalam kubangan rasa hina. Saya ditenggelamkan dalam koyakan perasaan marah, benci, kecewa, sedih dan berbagai rasa yang campur aduk meresap dalam ulu hati saya. Saya ditelantarkan, duduk dalam diam di bawah bilar rasa malu yang menyembul tinggi di atas puncak kepala. Saya tersia-sia layaknya seekor anjing yang menunggu remahan sisa dari meja tuannya, namun tidak mendapatkan apapun selain pukulan dan cerca.

Pada saat itulah saya merenung.

Apakah saya selalu mengingat keberadaan-Nya ketika saya ditinggikan?

Apakah saya hanya melihat-Nya sebagai Dia yang akan selalu mengabulkan permintaan saya?

Apakah saya hanya datang kepada-Nya ketika saya menderita?

Apakah saya sedemikian hebatnya sehingga saya mampu memahami makna di balik setiap tindakan-Nya?

Apakah saya layak menerima belas kasih-Nya?

Apakah saya pantas disebut sebagai umat-Nya?

374 total views, 2 views today


Dukung penulis dengan membagikan cerita ini :)
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *