18 Apr

The Designer’s Guide to Japanese Patterns – The Nara and Heian Periods (1989)

designersguidetojapanesepatternsnaraandheianperiodsjeanneallen

Tinjauan buku kali ini akan membahas buku The Designer’s Guide to Japanese Patterns – The Nara and Heian Periods yang disusun oleh Jeanne Allen dan diterbitkan pada tahun 1989 oleh Thames & Hudson Ltd.. Buku ini memuat berbagai pola yang digunakan di jaman Nara dan Heian, seperti pola pakaian, atap, cermin dan lain sebagainya. Seluruh pola berkualitas tinggi dan dicetak pada kertas licin mengkilap agar tahan lama. Kebanyakan ilustrasi yang dimuat disini adalah hitam putih, namun ada juga yang berwarna.

Read More

158 total views, no views today

17 Apr

Painted Fans of Japan – 15 Noh Drama Masterpieces (1962)

paintedfansofjapanoriginal

Tinjauan buku kali ini akan membahas sebuah buku kecil dan cantik berbentuk kipas yang berjudul Painted Fans of Japan: 15 Noh Drama Masterpieces. Buku ini disusun oleh Reiko Chiba dan diterbitkan pada tahun 1962 oleh Tuttle Publishing dalam bahasa Inggris. Seperti yang diterangkan dalam sub-judulnya, Painted Fans of Japan memuat 15 foto kipas yang digunakan dalam drama Noh beserta penjelasan singkat mengenai sejarah penggunaannya. Seluruh halaman buku ini dicetak pada kertas karton tebal mengilap dengan gambar berkualitas tinggi, sehingga buku ini cocok sebagai santapan visual untuk dinikmati sambil menghirup secangkir kopi.

Untuk meninjaunya lebih lanjut, silahkan klik pranala luar berikut.

307 total views, no views today

17 Apr

Sejarah Berpakaian di Jaman Heian – Gambaran Singkat

Jaman Heian adalah suatu periode di mana interaksi dengan China telah berkurang secara drastis dan budaya serta pakaian tradisional Jepang mulai berkembang menurut caranya sendiri. Pengaruh budaya yang hanya berupa imitasi murahan dari budaya jaman T’ang China semakin berkurang dan hanya sebagian kecil yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Jepang yang bertahan, kemudian menjadi fondasi kebudayaan Jepang sampai masa kini (Tsutomu, 1936). Karenanya, pada jaman Heian terjadi perubahan gaya arsitektur, standar kecantikan, hingga seni dan bahasa dan terciptalah budaya baru yang mulai memiliki karakteristiknya sendiri.

Pada jaman Heian, pemilihan jenis dan warna pakaian sangat penting baik bagi kaum laki-laki dan perempuan. Ini tercermin dalam berbagai literatur jaman Heian, seperti The Diary of Lady Murasaki (Bowring, 2005), Tale of Genji (Waley, 2010), The Pillow Book (McKinney, 2006), lukisan, rekam jejak kehidupan di jaman Heian dan sumber-sumber lainnya. Sebagai contoh, dalam diarinya Murasaki Shikibu selalu menggambarkan dengan cermat kombinasi warna, jenis kain dan pilihan motif pakaian para dayang istana yang bekerja bersamanya, seperti dalam ritual pemandian putra mahkota permaisuri Shoushi (Bowring, 2005). Contoh lain terdapat dalam Tale of Genji, dimana Genji menilai putri pangeran Hitachi (Safflower Princess, Suetsumu-Hana) berdasarkan kombinasi warna pakaian yang ia kenakan dan menyimpulkan bahwa putri tersebut memiliki selera yang agak ketinggalan jaman, namun berasal dari status sosial yang tinggi. Suetsumu-Hana adalah putri bungsu dari seorang pangeran, namun orangtuanya sudah meninggal dan tidak ada sanak keluarganya yang mampu mendukungnya secara finansial, sehingga kehidupannya cukup melarat (Waley, 2010). Contoh ketiga diambil dari salah satu cerita pendek yang dimuat di The Tale of Riverside Middle Counsellor yang berjudul The Shell-Matching Game (Hirano, 1963). Pada cerita ini seorang laki-laki aristokrat mengungkapkan ketidaksukaannya pada salah satu tokoh yang mengenakan pakaian dengan kombinasi warna yang tidak sesuai dengan musimnya. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa seni berpakaian pada masa itu sangat penting untuk menunjukkan selera, sensibilitas seni dan status sosial pemakainya.

Read More

1,467 total views, no views today

17 Apr

Budaya Merias Gigi di Jepang dari Zaman Jomon hingga Edo

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai budaya merias gigi di Jepang sejak zaman Jomon hingga Edo. Terdapat dua budaya merias gigi yang cukup populer di masyarakat Jepang hingga akhir zaman Edo, yakni mutilasi gigi (diperkirakan punah pada akhir jaman Yayoi) dan menghitamkan gigi (diperkirakan punah pada akhir masa pemerintahan Meiji/Showa). Tulisan ini akan merangkum kedua budaya tersebut dan membahas tujuan dan cara melaksanakannya serta keberlangsungannya hingga masa kini.

Pada jaman Jomon (4500 – 3000 SM) terdapat budaya merias gigi yang populer baik di kalangan laki-laki dan perempuan , yakni mencabut beberapa gigi depan/belakang untuk membentuk suatu pola tertentu. Budaya ini lebih populer pada kaum laki-laki dibandingkan perempuan, dengan persentase sekitar 70persen laki-laki dan 30persen perempuan. Umumnya proses mutilasi gigi dilakukan oleh kaum remaja yang beranjak menuju dewasa. Proses ini diduga sebagai bagian dari upacara kedewasaan atau menandai keanggotaan yang bersangkutan dalam suatu kelompok masyarakat tertentu yang sifatnya rahasia.

Read More

832 total views, no views today